Monday, June 18, 2012

Indonesia Goes Digital


Pada Bulan Juni ini, tepatnya antara tanggal 4-6 Juni 2012 Kemenkoinfo mengadakan pameran yang bertajuk Broadcast and Multimedia Show 2012 (BMS 2012) di Balai Kartini. Saya datang di hari terakhir, yaitu tanggal 6 Juni 2012. Tidak banyak booth yang tersedia, dan itupun tidak semua booth ada penjaganya. Selain dari Indonesia, peserta pameran lainnya adalah dari Cina. Saya menghampiri booth Kemenkoinfo yang waktu itu kalau boleh dibilang paling rame pengunjungnya. Tidak diketahui dengan pasti, mengapa banyak yang berkunjung ke booth tersebut, apakah memang barang yang dipamerkan lebih menarik atau ada undian semacam Russian rollet, dimana hadiah terbesarnya adalah seperangkat Set Top Box. Hadiah lainnya adalah topi, pulpen, buku diary/agenda, mug, dan lain sebagainya. Setelah mengisi buku tamu, saya dikasih brosur tentang program Kemenkoinfo, setelah dibaca brosurnya, saya pikir menarik juga jika brosur tersebut ditulis ulang, mengingat tidak semua orang bisa hadir di acara tersebut dan mendapatkan brosur tersebut. Adapun salah satu isi dari brosur tersebut tentang roadmap menuju televisi digital seperti yang tertulis di bawah ini.
Sekilas Tentang Televisi Digital
Penyiaran televisi digital merupakan suatu keniscayaan, suatu fenomena yang tidak dapat terelakan oleh negara-negara manapun di dunia. Ini merupakan suatu tuntutan global dimana seluruh negara di dunia telah dan sedang melakukan migrasi dari sistem penyiaran analog ke digital.
Standar penyiaran TV digital yang diadopsi dan diimplementasikan di Indonesia adalah Digital Video Broadcasting-Terestrial (DVB-T) sebagaimana tertuang dalam peraturan Menteri Kominfo No. 07/M.Kominfo/3/2007 tentang Standar Penyiaran Digital Terestrial untuk Televisi di Indonesia. Siaran TV digital terrestrial dapat menggunakan frekuensi VHF (Very High Frequency è 30 MHz to 300 MHz)/UHF (Ultra High Frequency è 300 MHz and 3 GHz [3000 MHz]) seperti halnya penyiaran analog, namun dengan konten digital yang dipancarkan melalui pemancar digital.
Dalam penyiaran TV analog, apabila antenna receiver semakin jauh dari stasiun pemancar TV, sinyal yang diterima akan melemah sehingga penerimaan gambar/suara menjadi buruk dan berbayang  atau berbintik-bintik (noise). Sedangkan penyiaran TV digital akan terus menerima gambar/suara dengan jernih sampai titik dimana sinyal tidak dapat diterima lagi. Dengan kata lain, penyiaran TV digital hanya mengenal 2(dua) status; Terima (1) atau tidak (0).
Pada era TV digital, pemirsa televisi  tidak hanya dapat menikmati program siaran yang lebih banyak dan variatif, tetapi juga dapat melakukan kegiatan interaktif dan dapat mengetahui jadwal program siaran yang akan ditayangkan melalui Electronic Program Guide (EPG).
Negara-negara maju dan berkembang di dunia telah menetapkan tahun migrasi dari penyiaran analog ke digital. Pemerintah Indonesia merencanakan bahwa pada akhir tahun 2017 seluruh wilayah di Indonesia telah dapat menikmati siaran TV digital sehingga pada tahun 2018 akan dilakukan Analog Switch Off (ASO) secara nasional.
Migrasi Siaran TV analog ke Digital
Sepanjang tahun 2010 s/d tahun 2017, Indonesia akan melakukan migrasi dari sistem penyiaran TV analog ke digital.
Apa itu TV Digital?
‘Digital’ berasal dari kata ‘digit’ atau ‘digitus’ (dalam bahasa latin) yang artinya berhubungan dengan angka-angka atau penomoran. Dalam sistem penyiaran TV digital, penggunaan angka 1 = Terima, angka 0 = Tidak. Ini merupakan suatu proses dimana sinyal data/audio/video dikirim dari studio produksi hingga dapat diterima perangkat TV yang ada di rumah-rumah. Saat ini, beberapa kota di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Batam dan Surabaya, siaran digital sedang dipancarkan bersamaan dengan siaran analog (simulcast). Untuk dapat menerima siaran TV digital, diperlukan suatu alat penerima (receiver) yang dinamakan Set Top Box.  Saat ini, sudah beredar juga perangkat TV digital yang dapat menerima siaran TV digital (Integrated-digital TV).
Alasan Penghentian Siaran Analog
Saat ini, siaran analog menggunakan 1 kanal frekuensi untuk menyalurkan 1 program siaran sehingga terjadi inefisiensi penggunaan spectrum frekuensi radio. Menghentikan siaran analog akan menghemat penggunaan spectrum frekuensi radio sehingga dapat dimanfaatkan untuk layanan tambahan.
Saat ini, sudah banyak Negara-negara maju di Eropa dan Amerika yang telah meninggalkan siaran analog dan beralih ke siaran digital seperti Belanda, Finlandia, Norwegia, Jerman dan Amerika Serikat. Negara-negara Asia Tenggara seperti Singapura, Malaysia, Vietnam, juga telah melakukan proses migrasi dari siaran analog ke digital.
Keuntungan implementasi penyiaran TV digital antara lain:
  1. Penerimaan gambar dan suara yang lebih tajam dan lebih baik.
  2. Pemakaian frekuensi radio yang lebih efisien
  3. Dapat dinikmati secara bergerak (mobile).
  4. Dari sisi efisiensi penggunaan spectrum frekuensi radio, akan lebih banyak konten yang tersalur melalui 1 (satu) kanal frekuensi sehingga akan menambah jumlah layanan siaran yang dapat dinikmati masyarakat.
  5. Kemampuan daya jangkau pemancar TV digital jauh lebih baik dibanding dengan pemancar TV analog sehingga dapat memperluas cakupan wilayah siaran sehingga lebih banyak masyarakat dapat menikmati siaran televisi yang berkualitas.
  6. Dengan adanya penyelenggara program siaran, akan membuka peluang usaha pertelevisian di bidang konten siaran digital.
Untuk tetap menerima siaran TV free-to-air setelah peralihan digital, diperlukan satu set televisi yang memiliki kemampuan menerima sinyal. Akan tetapi, jika kita tidak mempunyai TV yang bisa langsung menerima sinyal digital, kita tidak perlu mengganti dengan yang baru, karena secara virtual semua TV analog dapat menerima siaran digital dengan menambakan sebuah alat yang dinamakan Set Top Box.
Set Top Box adalah sebuah perangkat yang digunakan untuk mengkonversi sinyal digital kembali ke analog, sehingga kita dapat menyaksikan TV free to air digital pada perangkat TV analog. Harga Set Top Box sangat bervariasi.

2 comments:

  1. tulisan yang bagus general dan jelas mengenai teknologi televisi digital...sukses pak rusmawan..terus menulis

    ReplyDelete
  2. Terima kasih atas komentarnya

    ReplyDelete