Sunday, June 1, 2014

Review Microphone Shure

1. FP25/VP68
clip_image002 Shure FP25/VP68 wireless handheld system (sistem genggam nirkabel) terdiri dari 3 unit terpisah yang digabungkan menjadi satu sistem. Ketiga unit tersebut adalah VP68 omnidirectional capsule microphone (microphone kapsul dengan polar pattern omnidirectional), FP2 handheld transmitter (alat pemancar sinyal yang bisa digenggam), dan FP5 portable diversity receiver (alat penerima sinyal yang mudah dibawa dan memiliki antenna dengan tipe diversity). Microphone kapsul omnidirectional VP68 merupakan solusi yang nyaman untuk syuting ENG (electronic news gathering) ataupun wawancara di lapangan. VP68 kompatibel dengan semua pemancar nirkabel genggam shure. Mic jenis ini membutuhkan jarak yang lumayan dekat dengan sumber suara (biasanya subyek wawancara) sehingga hanya ideal untuk tipe wawancara satu per satu. VP68 dapat menerima sinyal suara dengan jelas baik pada posisi on-axis maupun posisi off-axis. VP68 juga mampu menimimalkan efek proximity secara natural serta mempunyai kinerja yang sangat bagus ketika digunakan baik di dalam maupun di luar ruangan. Selain kelebihan di atas, karena sifat polar patternnya yang omnidirectional sehingga alat ini mampu menerima sinyal suara dengan baik dari berbagai arah, maka mic jenis ini tidak cocok jika digunakan untuk tempat yang tingkat kebisingannya sangat besar seperti di terminal, pasar, maupun tempat keramaian lainnya karena gangguan suara yang dihasilkan dari area sekitar mic akan masuk dan mengganggu tingkat kejernihan suara yang dihasilkan.
Pemancar sinyal genggam FP2 sangat cocok untuk disandingkan dengan semua microphone kapsul dari shure dan ideal untuk digunakan dengan sistem FP wireless dan sistem SLX wireless. Selain dengan VP68, pemancar sinyal genggam FP2 biasanya disandingkan dengan shure SM58. Untuk sinkronisasi sinyal antara pemancar dan penerima sinyal sangat mudah yaitu dengan menggunakan sinyal infra merah. Setting pemancar otomatis akan langsung sinkron antara pemancar dan penerima. FP2 juga memiliki indicator LED untuk mengontrol lock out, IR/RF sync, dan mengontrol kondisi baterai. Bobotnya yang sangat ringan sehingga FP2 mudah untuk dibawa kemana saja. Untuk kebutuhan power, cukup dengan baterai AA sebanyak 2 buah yang mampu bertahan selama 11 jam dengan menggunakan baterai jenis alkaline.

Friday, March 7, 2014

Pengenalan mixer audio (bagian 2)

Posting bulan januari 2014 kemarin, kita sudah membahas beberapa bagian dari mixer audio. Tulisan kali ini kita akan melanjutkannya.
PFL dan SOLO
clip_image002Tombol PFL (pre fade listening) akan berguna untuk mendengar (melalui headphone) channel yang tombol PFL / SOLOnya diaktifkan. Juga untuk men-check gain sinyal pada channel. Misalnya pada saat soundcheck, sebelum membuka fader dari channel, tekan tombol PFL, maka pada led indikator channel akan terlihat seberapa besar gain input yang masuk (apakah overload atau terlalu kecil) sebelum suara dikirim ke seluruh sistem. Pada beberapa tipe mixer audio terdapat hanya tombol SOLO yang berguna pada saat soundcheck dan berfungsi untuk mengirim hanya channel yang ditekan tombol solonya ke master L/R.
Stereo Fader
Potensio geser yang berfungsi untuk mengontrol level channel stereo. Dari posisi off ke posisi yang bertanda “U” sampai penambahan gain 10 dB.
Signal Level LED
LED ini mengindikasikan penambahan level sinyal channel kiri dan kanan setelah GAIN dan EQ control, mengikuti stereo fader.
Group dan Main Mix Assigns
Disebut juga subgroup assigns , dimana group assigns ini hanya terdapat pada mixer audio yang memiliki group. Misalkan pada mixer audio tersebut tertulis 16/2 berarti 16 channel 2 output (L/R). Ini menunjukkan bahwa mixer audio tersebut tidak memiliki group. Namun bila tertulis 16/4/2, ini berarti mixer audio tersebut memiliki 16 channel, 4 group dan 2 master L/R. Group assigns adalah yang menentukan kemana sinyal channel akan dikirim. Apakah ke group atau ke master L/R. Misalnya dalam sebuah mixer audio yang memiliki 4 group, kita dapat mengirim semua channel drum ke group 1, gitar dan bas ke group 2, keyboard ke group 3 dan vokal ke group 4.
Sedangkan bila tersedia 8 group, kita dapat melakukan hal yang sama namun semuanya dalam stereo. Yang kemudian seluruhnya dikirim ke master L/R. Mungkin akan timbul pertanyaan, sepertinya ini tidak begitu berarti, karena akhirnya seluruhnya dikirim juga ke master L/R. Bukankah lebih baik mengatur langsung dari master? Tapi dalam kenyataannya tidak begitu. Misalnya pada saat soundcheck kita telah membalans seluruh channel drum dan kemudian kita gabungkan dengan bass gitar dalam group 1-2. Pada saat pertunjukan sedang berlangsung, kita hanya perlu mengawasi group 1-2 saja untuk mengontrol level keseluruhan channel drum dan bass. Begitu juga dengan backing vokal atau instrument yang kita gabungkan dalam group yang sama. Sebagian besar group assigns juga dilengkapi dengan pan control individual. Menggunakan group akan sangat membantu kita mengoperasikan mixer pada penampilan live.
Sinyal dari channel dapat dikirim ke group mana yang kita mau atau juga dikirim ke master. Misalnya kita kirim channel penyanyi utama ke master L/R sedang channel dari backing vokal ke group yang kemudian di-insert gate hanya untuk group tersebut. Dan masih banyak kemungkinan lain.
AGC Circuit

Tuesday, February 4, 2014

Mencegah Lensa Berembun

lensa canon Saat lensa dipindahkan dari ruang yang panas ke dingin atau sebaliknya, ada kemungkinan lensa akan mengalami kondensasi atau berembun.
Contoh umum yaitu saat kita keluar dari mobil yang ber-AC dingin ke luar mobil yang panas. Atau sebaliknya, saat kita membawa keluar kamera dan lensa kita dari tempat yang hangat seperti rumah ke luar ruangan yang lebih dingin dan lembab.
Pertemuan antara kamera dan lensa yang hangat ke tempat yang dingin akan membuat uap air menempel dan berkondensasi menjadi embun di permukaan dan di dalam lensa kamera.
Jika dibiarkan berlarut atau berulang-ulang, pengembunan ini bisa menimbulkan jamur, karat bahkan korslet.
Cara menghindarinya yaitu memasukkan kamera dan lensa ke dalam plastik kedap udara/ziplock, dan kemudian biarkan kamera dan lensa menyesuaikan dengan suhu baru secara perlahan.
Perlu sekitar 10-20 menit untuk menyesuaikan tergantung dari panjang lensa. Lensa yang sederhana dan pendek membutuhkan waktu lebih sedikit untuk menyesuaikan dengan suhu baru.

Tuesday, January 14, 2014

Pengenalan Mixer Audio

Postingan kali ini sebenarnya bukan tulisan baru, karena sebelumnya tulisan saya ini sudah ditampilkan di Majalah Broadcastmagz Edisi 17 yang terbit Februari – Maret 2013, jadi sudah lumayan lama juga ya, hampir setahun. Tetapi karena isi tulisannya masih update dan tidak banyak juga yang memiliki Majalah Broadcastmagz, maka tidak ada salahnya jika diposting di blog ini, mudah-mudahan bermanfaat.
Sesuai dengan namanya, mixer audio adalah suatu alat untuk Mixer ONYX-24-4mencampur berbagai sinyal audio dari beberapa sumber audio untuk diproses sedemikian rupa sehingga akan menghasilkan keluaran berupa sinyal audio utuh yang merupakan gabungan dari beberapa sumber audio tersebut. Pada kenyataannya, mengingat setiap sumber audio memiliki amplitudo serta karakteristik bunyi yang berbeda, maka mixer audio tidak hanya berfungsi untuk mencampur beberapa sumber audio sehingga menghasilkan satu audio yang utuh saja, tapi mixer audio juga berfungsi untuk mengatur volume, frekuensi dan pengaturan lainnya.
Fungsi dasar utama dari mixer audio adalah:
- Menguatkan (amplify) sinyal yang masuk
- Memungkinkan pengaturan level (volume) audio terhadap masing-masing sumber audio
- Memungkinkan kita untuk mendengarkan (monitoring) masing-masing sumber audio maupun audio secara keseluruhan
- Memungkinkan kita untuk mencampur (mixing) beberapa sinyal audio secara baik sesuai dengan yang diinginkan.
- Mengarahkan (routing) sinyal audio hasil penggabungan tersebut ke transmitter, speaker maupun alat perekam audio/video.
Fungsi dasar utama diatas biasanya selalu ada di setiap mixer audio,