Wireless Communication yang kedua adalah BTR 700 dari Telex. BTR 700 mempunyai RF Frequency Range 518 - 740 MHz Synthesized. Base transmitt power 50 mW max (high) 5mW (normal). No License-Free Operation, No Antenna and Channel Diversity, No Wireless Isolated Channel, No Simultaneous 2-wire and 4-wire operation. No Remotely "unlatch" beltpacs from transmitting, beltpacks transmitt power 50 mW Max, No Voice Prompt, No ISO+ Mode, No Internal beltpack antenna, Low Battery Indication LED only. Beltpack weight 15 oz. Harga Telex BTR-700 menurut http://www.bhphotovideo.com dan http://www.fullcompass.com sebesar $4095.Teknik Penyiaran
Blog ini berisi segala sesuatu yang berhubungan dengan teknik penyiaran, apakah itu radio, televisi, audio, video, lighting, transmisi, post pro. Blog ini mempunyai kembaran dalam bahasa inggris http://broadcastengineermedia.blogspot.com/.
Monday, January 9, 2012
Perbandingan Communication Wireless HME DX-200 dengan BTR-700
Wireless Communication yang kedua adalah BTR 700 dari Telex. BTR 700 mempunyai RF Frequency Range 518 - 740 MHz Synthesized. Base transmitt power 50 mW max (high) 5mW (normal). No License-Free Operation, No Antenna and Channel Diversity, No Wireless Isolated Channel, No Simultaneous 2-wire and 4-wire operation. No Remotely "unlatch" beltpacs from transmitting, beltpacks transmitt power 50 mW Max, No Voice Prompt, No ISO+ Mode, No Internal beltpack antenna, Low Battery Indication LED only. Beltpack weight 15 oz. Harga Telex BTR-700 menurut http://www.bhphotovideo.com dan http://www.fullcompass.com sebesar $4095.Friday, November 25, 2011
Ulasan Teknis Program Mantap ANTV
Untuk kebutuhan video system, di program MANTAP menggunakan 5 kamera dengan perincian kamera 1 dan 4 handheld untuk mengambil gambar di area sekitar stage, kamera 2 dan 3 menggunakan tripod di depan stage dan jimmy jib dikamera 5. Jenis kamera yang digunakan adalah Sony DXC D-55. Untuk kebutuhan switcher digunakan video switcher FOR-A 16 input, sedangkan untuk monitoringnya digunakan multiviewer evertz 16 input dan plasma 42". Untuk play materi, entah itu OBB, Bump in, Bump out, maupun materi liputan, digunakan 2 buah VTR Player Sony MSW-2100P, sedangkan untuk merekam materi tayang, digunakan 1 buah VTR Sony DVW-M2000P (walau program MANTAP ditayangkan secara Live, tapi tetap harus direkam untuk dokumentasi maupun untuk ditayangkan ulang secara kompilasi jika dibutuhkan). Untuk kiriman sinyal video ke mobil SNG (Satelit News Gathering), digunakan sinyal video digital SDI (Serial Digital Interface) dari output PGM switcher sebagai main dan output dari DDA (Digital Distribution Amplifier) sebagai back upnya.Thursday, May 5, 2011
TelkomVision-Samsung Pasarkan TV Internet
Anak perusahaan Telkom yang bergerak di bidang media dan edutainment, TelkomVision, menggandeng produsen elektronik dari Korea Selatan, Samsung, untuk memasarkan produk TV berbayarnya.
"Samsung menjual 60 ribu TV setiap bulannya. Pada bulan pertama kami targetkan 10% terpikat oleh produk bundling ini, di bulan berikutnya kita harapkan mencapai 60% dari total penjualan itu," papar Direktur Utama TelkomVision Elvizar KH di Planet Hollywood, Jakarta, Kamis (5/5/2011).
General Manager Sales Post Paid TelkomVision Rindo Fitega menjelaskan, digandengnya Samsung karena tidak hanya ponsel yang semakin pintar, tetapi TV pun semakin cerdas karena dibekali kemampuan akses internet.
"Dengan bundling, konsumen akan mendapatkan keuntungan seperti harga yang lebih murah, layanan televisi berbayar dan bisa saja layanan internet sekaligus," kata Rindo.
Hasil kerjasama antara TelkomVision dan Samsung dibungkus dengan nama program Smart Offer dan Smart Bonus.
Program Smart Offer menawarkan produk Samsung Smart TV mulai dari ukuran 40 inci yang mendapatkan gratis berlangganan YesTV dengan bonus all channels selama 3 bulan dan diskon 50% biaya instalasi. Program ini juga menawarkan gratis akses internet Speedy paket familia atau office 1 Mbps selama 3 bulan dan gratis pemasangan.
Sedangkan Smart Bonus menawarkan televisi LCD TV, LED TV dan PDP Samsung mulai ukuruan 22 inci, yang setiap pembelian akan mendapatkan gratis berlangganan YesTV dengan bonus 3 bulan dan diskon 50% pemasangan instalasi YesTV.
TelkomVision sepanjang 2010 membukukan kinerja positif dengan catatan pendapatan Rp 161,6 miliar atau meningkat 50,1 dibandingkan 2009 sebesar Rp 107,7 miliar.
Pada 2011, TelkomVision menargetkan pendapatan sekitar Rp 300 miliar dari 500 ribu pelanggan atau tumbuh 100% dibanding tahun lalu dari sekitar 250 ribu pelanggan.
Tuesday, February 8, 2011
Materi gambar 5D dan 7D untuk Program TV
Akhir-akhir ini, banyak film dan v-klip yang menggunakan kamera DSLR EOS 5D & 7D (yang teman-teman dan saya sering bilang "shooting kok pake tustel?") sebagai bahan baku. Dari segi produksi, saya melihat hal ini memang menguntungkan. Harga nya yang relatif murah dan gambar yang tidak kalah bagus bila dibandingkan dengan kamera video dan film 'beneran'.
Sekarang saya ingin tahu tanggapan teman-teman bila shooting program TV (feature, reality show, magazine) bila menggunakan kamera ini. Ini menjadi pertanyaan bagi saya setelah mebantu beberapa teman yang sedang menjalankan tugas kuliah di FFTV-IKJ. Beberapa kelompok menggunakan kamera ini sebagai materi visualnya untuk program TV non-drama. Yang saya rasakan setelah membantu pascaproduksi (audio-post) mereka ada kejanggalan, seperti:
-Kamera tersebut mempunyai spek yang minim untuk audio, jadi mau tidak mau mesti menggunakan sistem perekaman double system (perekaman gambar dan suara secara terpisah). Dimana pada saat transfer data & editing, editor harus mensinkronkan gambar dengan suara dan sebuah program TV harus bergerak cepat maka dari itu tidak menggunakan slate sebagai acuan untuk sinkronisasi. Jadi, saya hanya berkata sabar kepada editor
-Kebutuhan transfer data jika memory penuh. Lain dengan bahan baku kaset mini dv/dvcam yang dicapture belakangan dan bahan baku tersebut mampu merekam selama kurang lebih 40-60 menit per kaset.
-5D & 7D untuk saat ini hanya compatible dengan software editing Final Cut Pro. Dan untuk import ke timeline tersebut membutuhkan proses transcoding dari codec H264 ke Apple ProRes 422. Tentu saja, memakan waktu lebih lama. Lamanya mentransfer 1 klip itu hampir real time. Bila 1 klip berdurasi 1 menit, maka transfer memakan waktu hampir 1 menit juga. Saya rasa ini akan menghambat waktu menuju proses tayang.
-Kamera tersebut progressive scaning yang scale sizenya 1920x1080. Sedangkan untuk tayang di TV yang saya tahu itu PAL 720x576 dan interlaced. Memakan waktu juga pada tahap export/convert.
-Saya sudah bertukarpikiran dengan teman-teman yang di broadcast kalau Indonesia belum bisa menyajikan HD untuk tayangan TV. Dan saya berpikiran, "buat apa shooting dengan HD namun ditayangkan SD?
Menurut tanggapan teman-teman, seberapa ideal kah jika sebuah program TV (non-drama) jika menggunakan alat ini? Maksud & tujuan apa yang ingin dicapai jika menggunakan alat tersebut?
Tanpa ada maksud menyinggung perasaan, saya ucapkan terima kasih atas tanggapan yang diberikan.
Salam sukses,
G.Q. Ramadhan.

